minggu pagi di kota Priangan

February 19, 2010

Minggu pagi di kota Priangan, matahari memancarkan sinar hangat.

Angin berhembus semilir, membelai dahan pohon yang kuyup. Hujan tadi malam tak begitu deras, namun mampu membahasahi bumi sangkuriang ini merata. Telah sekian lama aku tidak pernah melihat bintang, gemerlap genit di malam yang pekat. Setelah sekian lama, aku mulai membayangkan, mereka-reka. Bagaimana sakitnya hatimu saat dengan suara penuh, kubilang mau pergi. Tiga lusin bulan yang kita lewati bersama. Berpuluh loyang pizza yang kita habiskan bersama, beribu genggam erat yang kita miliki bersama, dan berjuta senyum yang kita bagi bersama. Terlupakan begitu saja. Bukan karena bosan denganmu, atau ada yang menggantikanmu. Dulu keputusan ku bulat, begitu bulat, karena aku ini petualang. Mungkin kau lupa, aku ini petualang, yang semakin kau kekang semkain ingin berkelana. Bukan berkelana untuk melupakanmu, hanya haus dengan gempita warna-warni dunia. Andai saja dulu kau merelakanku sejenak berpetualang, tentu ini tak akan terjadi. Aku tidak menyesal dengan perpisahan kita, aku pun tidak menyesal dengan apa yang telah kita lalui. Aku hanya mengingatmu sejenak. Karena kini, aku tak sendiri lagi. Dia yang sekarang dapat merelakan ku berpetualang, dan menunggu ku dengan cinta yang tak berkurang. Dia seperti ayah yang dulu pernah hilang dalam kenanganku. Aku bahagia dengannya, dan ku harap kau tak terluka akan hal itu.

Advertisements

milky mie ala Meli

October 1, 2009

Milky Mie ala Meli

….memasak 10 menit, untuk kenyang sepanjang hari.

Bahan:

  • 1 bungkus mie instan (rasa apa saja)
  • 1 butir telur ayam
  • 1 bungkus susu bubuk putih instan
  • 5 X 5 cm keju (bila ada)
  • Air secukupnya

Cara penyajian:

Rebus mie instan dengan air secukupnya, tanpa di bumbui. Setelah setengah matang, angkat, tiriskan. Buanglah air sisa rebusan. Lalu rebus air secukupnya sampai mendidih, masukan 1 bungkus susu bubuk putih instant. Aduk merata, hingga tidak ada gumpalan susu bubuk. Masukan 1 butir telur. Atur sesuai selera, diaduk-aduk, atau utuh. Setelah telur setengah matang dalam air susu yang mendidih, masukan mie instan yang telah di rebus tadi. Aduk merata, sambil masukkan bumbu hingga merata, masukkan potongan keju bila tersedia. Angkat dan sajikan.

Resep ini datang tercipta mendadak, waktu ibu tidak masak, dan saya pun malas masak  J hehe. Dua wanita pemalas sedang bersekongkol! Setelah”Milky Mie” matang, saya juga agak jijik melihatnya. Seperti ramuan nenek sihir untuk membunuh putri cantik di negeri dongeng Disney. Tapi rasa penasaran saya mengalahkan “tampang” Milky Mie. Hasilnya, Voila! Seperti sihir, yummie….Selamat mencoba! Fyi, resep ini pernah diterapkan pada seorang anak Kostan Kelaparan Berperut Gendut di Jatinangor, di pandu melalui sms dan telpon ketika memasak. Dengan berpendapat penampilan Milky Mie agak seram awalnya, tapi dia menjadi penggemar pertama Milky Mie…Love Him!

Bandung, 2009

fever is quiver

October 1, 2009

Fever is quiver

Menjadi seorang perempuan adalah tujuan dari pencapaian hidup saya. Sama halnya dengan membahagiakan ibu, entah menuntun adik menjadi lelaki dewasa bertanggungjawab kelak. Satu hal yang saya takutkan dari beberapa hal yang membuat saya takut adalah mengecewakan orang-orang yang saya sayangi. Orang-orang yang sekuat hati saya peluk. Orang-orang yang bisa membuat saya menangis tanpa alasan. Selama dua puluh satu tahun saya begitu bebas bernafas, tapi masih tersendat-sendat bertindak. Terlalu banyak pertimbangan. Setiap keputusan kadang diselubungi keraguan. Dan sekarang saya sadar. Keraguan adalah awal sebuah pengetahuan baru. Keraguan membuat saya berusaha lebih keras lagi mencari titik ragu. Membuat saya mencerai-beraikan setiap permasalahan, menjadi bagian-bagian yang terkecil, semakin kecil, menjadi serpihan, menjadi debu. Pengetahuan adalah apa yang saya yakini ada dan saya sadari tak dapat saya sentuh. Sama halnya dengan pikiran. Apa yang sedang saya pikirkan ketika suhu badan tinggi begini? Apa yang sedang saya tangisi dengan suhu tinggi begini? Tidak dapat saya perlihatkan. Karena pikiran sama halnya dengan pengetahuan. Saya tahu apa yang sedang saya pikirkan, dan saya tidak pernah juga menyentuh pikiran itu. Bagaimana rupa pikiran ketika saya sedang menangis? Bagaimana warna pikiran ketika saya sedang tertawa? Jangan Tanya saya. Saya pun tidak tahu. Sama halnya dengan kamu tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu jika saya sedang bertanya-tanya. Bertanya-tanya tentang segala hal. Meragukan segala hal. Memecah-mecah seribu hal menjadi serpihan, menjadi debu.

Saya ingin menyimpulkan, bahwa perempuan harus berfikir jernih agar tahu apa yang benar-benar ia butuhkan, biar tidak terperangkap pada apa yang ia inginkan. Tapi siapa saya ini, begitu berani menyimpulkan sesuatu. Pujangga bukan. Filsuf bukan. Saya hanya seorang perempuan yang duduk di kamarnya, tergesa-gesa mengetik ketika suhu tubuhnya semakin tinggi.

Ingin rasanya tidur, tidur, dan tertidur. Dan terbangun ketika didalam tidak terasa begitu sekosong ini. Saya terlalu kompleks untuk dimengerti. Jangan Tanya kenapa saya merasa kosong, karena sungguh, saya pun tidak tahu. Semua begitu terasa datang tiba-tiba, menguasai hati, mengendalikan emosi. Seperti saya yang lain sedang mengambil alih kemudi diri.

Atau saya ini sedang bermimpi. Bermimpi sedang bersuhu tubuh tinggi. Bermimpi sedang merasa kosong. Bermimpi sedang menangis tanpa sebab. Atau sebelumnya saya bermimpi tersenyum senang. Bermimpi tidak sabar segera kau peluk. Bermimpi duduk manis mencemaskan hari itu tiba. Mungkin juga saya sedang dipermainkan pikiran, membuat saya bingung. Mana yang sebenarnya nyata. Mana yang hanya mimpi. Karena keduanya begitu terasa sama, begitu terasa nyata, begitu terasa kosong seperti mimpi. Kurang ajar sekali pikiran ini, tega mempermainkan saya hingga bergetar, terguncang begini.

Bandung, 26/09/09. Saturday, 3: 53 PM.

ada layang-layang tersangkut di dahan

October 1, 2009

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Kelu tanpa daya. Angin mendesah di sekitarnya. Menabur aroma tanah. Sepi. Matahari begitu terik menyilaukan mata. Seakan hendak mencumbui bumi dengan membabi-buta. Dedaunan hijau saling menggesekkan diri. Bergemerisik. Kesana-kemari. Dedaunan yang menguning, beralun lemah. Hendak  gugur meretakkan hati, tetap bertahan tak beruna juga. Kejayaannya hilang, hijaunya pergi, turut serta dengan cita mulia pada kehidupan. Tak ada yang bisa menolak kehidupan. Begitu juga kematian, sama halnya dengan datang dan pergi. Gelap dan terang. Cinta dan perih. Siang dan malam. Tawa dan tangis. Pelukanmu dan sepi. Semuanya tercipta berpasangan. Dia yang Mencipta melihat hal itu baik adanya. Terciptalah. Tanpa ada kehendak  mahluk untuk memilih. Nikmati saja. Maknai saja. Jangan terlalu banyak merengek dan mengeluh. Itulah hidup. Teruslah bergerak, selagi ada kesempatan. Dan waktu.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Bergoyang-goyang kesana-kemari. Berusaha melepaskan diri. Hanya pelukan erat ranting pula yang di dapat. Matahari tak semegah tadi. Mulai lembayung. Berpijar keemasan. Seperti koin emas di negeri seribu satu malam. Makin mesra menatap bumi dengan mata jingga yang bulat penuh. Matahari selalu lebih setia dibanding bulan. Tak pernah menghilang atau beristirahat menjaga bumi agar tetap hangat. Selalu tulus. Seperti senyummu.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Bocah kecil bermata sipit mencibir cemas. Mengumpulkan keberanian. Mengatur strategi. Memanjat pohon dengan liar. Mencari galah tuk meraih. Terus mengawasi. Barangkali ranting-ranting itu bosan memeluk. Dan melepasnya pergi. Entah desiran angin sore sedang berbaik hati. Merayu dahan, dan menggoda ranting. Tidak terlalu berharap banyak. Jangan pernah berharap banyak pada bukan dirimu sendiri. Masih mengawasi dengan mata sipit dan hati yang gelisah. Layang-layang berwarna merah. Bersalur hitam. Bergerak-gerak di senggol burung nakal. Semakin pasrah pada kehidupan. Belum lagi lolos dari pelukan ranting kering tak berbuah. Harus pula memikirkan jadi apa diri ini di tangan bocah bermata sipit. Entah hujan akan menghujam bumi dengan benang perak yang tajam, dan layang-layang usai terkoyak di gelapnya malam. Tanpa di damba bocah bermata sipit. Di pelukan ranting kering yang tak pernah berbuah.  Tak ada yang lebih indah, selain di kagumi. Seperti lirikmu mengagumi ku.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Di kagumi bocah bermata sipit. Di tinggalkan burung nakal yang kembali ke sarangnya. Di belai angin malam. Maksud  hati ingin menggarungi langit. Menyaksikan padi menguning. Bertegur-sapa dengan awan. Awan yang mengembang seperti gulali. Manis. Merasa semakin dekat dengan matahari. Bertengger di cakrawala biru. Melihat kehidupan dari atas. Semakin dekat dengan Dia Yang di Atas. Jika memang benar Dia ada di Atas. Apa daya. Sekuat hati melayang, tersangkut juga. Berbesar hati. Hanya sia-sia. Bagaimana memaknai hidup. Bagaimana menikmati cinta. Bila yang di dapat selalu tawa. Putus asa dan terjebak, adalah kunci untuk menikmati tawa. Untuk tegar dalam perih. Biarkan hati mencari jawabnya sendiri. Terlalu keras pada diri. Terkadang ada baiknya juga. Toh tak ada yang bisa memastikan hari ini perih entah esok pelukan hangat. Bahkan sekarang lemah, nanti putus asa yang di dapat. Tak ada yang bisa memilih rasa. Yang ada hanya bagaimana memaknai rasa. Biar dingin yang didapat, jangan pernah berhenti berharap untuk kehangatan. Jangan pernah berhenti, selama Dia masih memberi waktu.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Dilupakan bocah bermata sipit. Dirundung malam yang pekat. Berharap masih punya waktu, memaknai esok pagi. Ketika matahari masih memiliki kesempatan mencintai bumi tanpa berharap disadari bumi. Selagi masih ada waktu dan kehidupan tak setega biasanya.

Bandung, 17 September 2009

edgy eggs ala Meli

September 30, 2009

Edgy eggs ala Meli

Bahan :

  • 2 butir telur ayam
  • Seperempat sendok the lada putih bubuk
  • Seperempat sendok makan garam
  • Keju di iris-iris tipis secukupnya
  • Sosis ayam/sapi di Rajang tipis sesuai selera (sesuai selera)
  • Bawang daun/ bawang Bombay di cincang halus (sesuai selera)
  • Mentega secukupnya

Cara penyajian :

Campurkan semua bahan dalam mangkuk, aduk merata, pastikan takaran garam dan lada tidak meleset, sangat mempengaruhi rasa. Aduk hingga benar-benar merata. Panaskan wajan, lelehkan mentega secukupnya. Setelah mentega meleleh sempurna, tuangkan seluruh adonan bahan perlahan-lahan. Rapikan keju yang menggumpal. Kecilkan api. Biarkan adonan matang merata, balikkan perlahan. Biarkan matang merata. Lalu, gulung ‘Edgy Eggs’ selagi di atas wajan. Sajikan. Selamat mencoba! ( Sajikan dengan kentang goreng, nasi panas, atau sauce sambal.)  🙂

Bandung, 2009

hari ini saya kacau sekali

September 15, 2009

hari ini kepala saya pusing. padahal masih hari selasa, masih ada rabu,kamis,jumat,sabtu,minggu yang harus saya lalui. agar minggu ini berakhir. seperti mahasiswi kebanyakan, saya penat dengan masalah skripsi. salah saya. terlalu santai menghadapai tantangan yang saya pilih sendiri. ketika tersadar dari leha-leha saya selama ini, saya shock.  Judul yang diajukan teman-teman saya sudah di Acc. sedangkan saya masih nol besar. jelas sekali, saya ini tidak pandai me-manage diri. ceroboh dalam bersikap. kurang persiapan dalam mengambil keputusan.

duduk sendiri di kampus se-sore ini, membuat saya teringat pertanyaan seorang tokoh di novel Jostein Gaarder. nama tokoh itu Sophie, Sophie Amundsen. ada beberapa hal yang saya alami, sama seperti yang dia alami. seperti dulu saya pernah mempertanyakan, kenapa rambut saya seperti ini, berombak tak beraturan, terlalu tebal. bahkan kadang saya berdoa pada Dia yang Esa, tolong beri saya rambut yang lain. sekarang, beberapa tahun belakangan ini. saya sangat bersyukur dengan rambut berombak-tak-beraturan ini. setelah keramas, tanpa hairdryer, membuat rambut saya seperti di tata, tanpa di sisir, ajaib! 🙂

Sophie mempertanyakan siapa dia, dia bercermin, masih juga mempertanyakan siapa dia. Lalu, siapa saya? apakah saya akan menjawab, saya meli, melita. kurang historis kalau saya jawab begitu. bagaimana kalau saya jawab, saya melita, panggil saja meli. Saya melita kristin bleszend reyienzher sembiring meliala, saya bukan indo, saya pure dari suku Batak-Karo. Salah satu suku yang ada di daerah sumatera utara. saya masih merasa tidak pas menjawab seperti itu.

jadi siapa saya? saya hanya seorang anak perempuan dari keluarga yang tak selalu sempurna. saya seorang yang berusaha positive menghadapi masalah. seringkali saya rapuh, ya seringkali. saking seringnya, saya lupa kapan terakhir kali berkepala tegak dalam menghadapi masalah. saya terlalu rapuh menghadapi setiap masalah? sering saya berusaha setenang dan bijaksana mungkin dalam menghadapi masalah. tapi saya selalu mengacaukan segalanya…

yang saya mau, tak banyak. cukup membahagiakan ibu dan adik saya. itu saja cukup. terlalu banyakkah saya meminta?

hari ini saya kacau sekali 😦

cuma kalimat itu yang sebenarnya ingin saya katakan, tapi berat mengakuinya. saya depresi memikirkan skripsi, saya bingung. gamang tentang masa depan. daritadi ketikan ngelantur, gak fokus. pikiran saya kacau, ya kacau..

hari ini, saya benar-benar merasa menjadi seorang Sophie Amunsend yang baru pertama kali bertemu Alberto Knox!

ibu dan dua lampion

September 10, 2009

ibu tidur.

buatku, ibu selalu cantik.

tak ada hal yang membuat cintaku berkurang untuknya.

wajahnya yang kuning langsat, dipulas letih yang mendalam.

tak ada putus asa diwajahnya.

yang ada hanya harapan besar untuk dua orang calon masa depan.

si bungsu yang pemberontak, cerdas luar biasa.

seperti ombak, menderu biru, tak terbatas.

si sulung yang tak kalah berontaknya, namun terlihat seperti kapas.

seperti sungai mengalir, dengan cinta dalam hening.

dua lampion.

calon mercu suar.

harapan ibu.

buah hati ibu.

semangat ibu.

selalu tersebut di doa ibu.

ibu masih tidur, terlalu lelah.

Bandung,07april2008

08:15 am

September 10, 2009

08:15 am

yang paling ku benci

menangis di pagi hari

menyaksikan hati

kau remukkan lagi

hanya karena kau terlalu ingin memiliki

membunuh karakterku dengan belati

menghadangku ‘tuk bermimpi

kerap menjegalku ketika berlari

tersenyum lega melihatku sepi

kau bilang cinta itu,begini..

ku bilang, aku mau pergi!

Bandung,2008

i love sunrise

September 10, 2009
*melitakristinmeliala*

*melitakristinmeliala*

sunrise…harapan pasti yang tak ingkar janji. tetap terbit walau hari ini kau patah hati entah jatuh cinta (lagi). seperti kau dan aku, yang menanti masa depan dengan gelisah, berharap seindah terbitnya matahari..have a great day, friends

be purple no hurtful

September 9, 2009

Pagi ini, aku bangun dengan di selimuti gelisah tentang kita. Ku coba mengeraskan hati, memusatkan cita hidup. Dan aku terlalu lemah pagi ini, sahabat. Kau tak seumur jagung melimpahiku dengan kasih, tapi begitu menyita risau ku pagi ini. Pernah dulu aku bercerita tentang masa lalu ku, hampir tiga lusin bulan ku lewati, tapi tak ada ku tangisi saat melangkah pergi dan memutuskan menyusuri sungai sepi dan melawan jalannya hati. Tidak juga sentuhan, apalagi ciuman yang buat aku begitu gelisah pagi ini. Hanya tatap hangat mu, itu saja sudah cukup buat aku biru. Tak ada yang lebih indah, selain bulan September. Tak ada yang lebih perih, selain bulan September. Kau peluk erat aku sorenya, kita diskusikan tentang kita malamnya, dan dini hari kita saling menguatkan untuk memilih melangkah sendiri. Apakah pernah kau bayangkan, aku begitu menikmati kicauan mu tentang pola makanku. Atau apakah pernah kau bayangkan, di saat  aku berkata aku kuat, aku sangat rapuh walau sekedar menghadapi pagi di bulan September.

Kau limpahi kasih di hidupku yang sepi, bagai bayangan. Tanpa permisi, sudah ada di belakangku, memeluk ku saat lemah, menguatkan ku saat rapuh, dan menghilang begitu saja ketika cahaya datang. Jangan kwatirkan tentang betapa berbahayanya bagiku berjalan sendiri di keramaian, jangan kwatirkan lagi sayang…karena aku akan makin menangisi tentang kita. Walau aku memang sedang menangisi tentang kita, sepagi ini. Setidaknya kau tak tahu, sepagi ini aku telah mencoba melihat matahari, berharap hangatnya gantikan kenangan tentang hangat pelukanmu. Tapi, pagi ini bandung terlalu dingin, terlalu dingin menusuk kulitku yang kau kagumi, dan terlalu dingin tuk cegah mata ku memerah,  terlalu dingin membuat hatiku makin menciut.

Aku tahu akan semakin nelangsa bila menyesali telah lengah mengenai hati, mengenai toleransi, mengenai logika. Kita begitu berbeda dalam berbagai hal, tapi satu dalam cinta. Jangan menangis lagi sahabat, jangan. Redam, redam! Berpaling, jangan lihat ke belakang lagi, akan semakin sakit. Sesakit bila kita terus jalan bersama dan berakhir dengan perpisahan pula. Seperih menerima genggaman tanganmu ketika aku tahu hal ini pasti akan terjadi.

Kadang aku menyesal dengan jalan pikiranku sendiri. Menyesal dengan pola pikirku. Andai saja aku ini masih kekanak-kanakan, kau pasti luluh bila aku merengek untuk keputusan kita tentang pisah. Tapi itu bukan aku, bukan aku, dan kau tahu itu. Kau tahu aku kuat. Dan aku masih menangis, sepagi ini.

Ingin sekali aku mengenang hal-hal yang tidak membuatku biru sepagi ini. Mengenang dingin yang buat kau melirik ku. Mengenang hal-hal bodoh yang kau lakukan. Mengenang kau pernah menatapku tertidur, kedinginan, meringkuk. Mengenang genggaman pertama kita. Mengenang sigapnya kau menyambut kedatanganku tiap pertemuan kita. Mengenang peluk mu, mengenang belaian kasih di kepalaku. Mengenang , kau memaksa diri tak tertidur di malam-malam beratku. Mengenang cara berpikirmu. Mengenang senyummu. Perih sayang..

Tadinya kupikir, kau tak seberharga ini. Kupikir kau hanya hal sejenak yang akan segera berlalu dengan sendirinya. Tadinya sahabat, tadinya…harusnya kita tak bermain dengan hati, ya kan? Harusnya kita jangan bermain dengan Dia Yang Mencipta. Tolol kita sayang, merasa bisa menghadapi ini, tolol kita! Melawan arus terasa sangat sulit, sahabat? Jangan pegang tanganku bila kau mulai terbawa perasaan, jangan genggam, jangan lagi…cari ranting, cari motivasi lain. Jangan aku.

Darimana datangnya cinta, siapa yang mencipta cinta. Apakah Dia yang sama ku puja-puji di hari minggu dan dia yang kau sembah-sujud lima kali sehari. Kita tidak tahu, dan terlalu hina untuk mencari tahu. Kau tahu sahabat, mungkin Dia-lah yang mencipta cinta, tapi bukan kita yang dituju. Kita ini hanya bulir-bulir debu yang mencoba mengerti tentang semesta. Dan aku benci kata semesta, mengingatkan ku pada diagram Venn, mengingatkan ku pada matematika yang tak sulit ku taklukan. Mengingatkan ku pada betapa kecilnya aku, betapa tak berartinya aku memilih cerita hidupku sendiri. Mengingatkan ku pada akal pikiran, sesuatu hal yang ku pastikan ada. Karena aku berpikir, maka aku ada, seperti kata Descartes.

Aku tak sekuat yang aku bayangkan. Kita harus kuat, harus mas…